Qalam Ilahi Wellness Center Malaysia
Selamat Datang ke WebForum Qalam Ilahi Wellness Center atau dahulunya dikenali sebagai Paranorms Health Center

Web forum Paranorms dicipta kerana kecintaan kami tehadap jalur keilmuan metafizik, spiritual dan rawatan alternatif. Kami cuba mempersembahkan satu wadah dimana kita boleh meneroka bidang ilmu olah energy seperti tenaga dalam, reiki, kundalini, ilmu hikmah dan sebagainya secara ilmiah. Hakikatnya masih ramai dikalangan kita yang salah faham dalam memandang dan mengamalkan ilmu-ilmu tersebut sehingga menimbulkan sikap fanatik atau pesimistik.Kami juga menyediakan rawatan gelombang energy bagi sesiapa yang memerlukan samada secara jarak jauh mahupun dekat.

Pengunjung dicadangkan untuk mendaftar terlebih dahulu bagi memudahkan anda berhubung dengan para ahli dan perawat di dalam forum ini. Terima Kasih.

Tafakur dalam perspektif psikologi islam

Page 1 of 2 1, 2  Next

View previous topic View next topic Go down

Tafakur dalam perspektif psikologi islam

Post by maza9071 on Thu Apr 15, 2010 4:37 pm

Setiap kali manusia tafakur merenungkan dirinya, ia akan mendapatkan rahasia-rahasia yang sangat mengejutkan dan menakjubkan menganai bentuk tubuh dan rahasia-rahasia roh serta alam semesta berikut kekuatan yang nampak dan tidak nampak, serta pemahaman tentang benda-benda empiris dan cara menyimpan dan mengingatkannya kembali. Ia akan tahu tempat penyimpanan berbagai persepsi dan pengetahuannya, bagaimana semua gambaran dan pandangan serta hasil penglihatannya dapat terukir dengan jelas.

Hati yang selalu bertautan dan berhubungan dengan Allah serta pandangan yang benar terhadap alan dan manusia, akan melahirkan kesadaran bahwa bulatan bumi dan isinya tidak lain hanya atom kecil yang tidak bernilai dalam kerajaan Allah yang luas. Bertafakur mengenai segaala ciptaan Allah dan isinya tanpa mengenal batas waktu dan tempat, karena dari alam wujud itulah kita dapat merasakan dan mencintai Allah. Karena seorang mukmin tidak boleh memikirkan Zat Allah, manusia hanya boleh memikirkan Allah dari apa yang diciptakannya. Perbedaan individu dalam bertafakur diantaranya :

1. Kedalaman iman
Kedalaman berfikir dan renungan pertama kali tergantung kepada derajat iman seseorang dan hubungannya dengan Allah. Karena hanya Allah dan diri pribadi yang dapat mengetahuinya. Di dapti hal-hal yang menakjubkan jika seseorang sudah menjalani tafakur yang mendalam, ia betul-betul tenggelam dalam tafakurnya sehingga tidak menyadari lagi apa yang ada disekelilingnya.

2. Kemampuan memusatkan pikiran
Kemampuan individu dalam memusatkan pikiran dengan cepat agar tidak mudah capek dan bosan cirri semacam ini banyak ditentukan oleh system saraf yang diberikan Allah swt kepada seseorang. Seseorang yang memiliki daya tangkap sebagai penjaga pintu yang mengatur saref dan urat nadi yang menghubungkannya ke otak.

3. Kondisi emosional dan rasional
Tafakur membutuhkan ketenangan, ketentraman jiwa, serta kesehatan fisik dan psikologis. Seseorang yang sedang mengalami kegelisahan, cemas dan ketakutan tidak dapat memikirkan tentang ciptaan Allah . oleh sebab itu kesehatan fisik dan sikis sangat di butuhkan pada saat bertafakur . karena pada saat bertafakur atau mmecahkan masalah menjadi lemah bersama dengan tambahnya kegelisahan dan depresi. Walaupun hasil yang di dapatkannya hanya rendah.

4. Faktor lingkungan
Pengaruh lingkungan seseorang tinggal, kadars sibuk tidaknya pikiran dengan problem sehari-hari yang dapat menpengaruhi seseorang untuk melakukan tafkur.

5. Tingkatan pengetahuan tentang objek tafakur
Sejauh mana pengetahuan seseorang tentang objek tafakur. Karena seseorang yang memiliki pengetahuan atau ahli mengenai sesuatu akan mempermudahkan ia pada saat bertafakur.

6. Contoh baik dan pengaruh pergaulan
Pengalaman dan contoh yang diperoleh seseorang pad saat bertafakur apakah sudah sesuai dengan kadar dan ukuran pencapaiannya. Karena dikatakan bahwa oaring yang selalu bertafakur dan berzikir akan dibukakan pintu yang luas untuk mendekat, sehingga seolah-olah ia melihat dan menyaksikan apa yang ada di langit dan di bumi.

7. Esensi sesuatu
Esensi dan cirri sesuatu yang menjadi objek renungan dan proses berpikir dalam mentafakuri ciptaan Allah swt.

8. Kadar kebiasaan terhadap objek
Kebiasaan yang dilakukan seseorang untuk melakukan tafakur dapt menjadikan dirinya tertutup matanya, karena dirinya merasa terbiasa dengan apa yang di lakukannya. Seharusny adengan kebiasaanny aitu manusia harus dapat mengembangkan lebih maju.

Alangkah bahagianya jika kita dengan bertafakur dapat lebih mendekatkan diri dengan Allah dan alam ciptaannya, sehingga kita dapat merasakan kenyamanan dan keakraban dengan alam sekitar tidak hanya dengan manusia saja, tetapi ke semua makhluk ciptaan Allah.


url/psikonseling/tafakur-dalam-perspektif-psikologi.html

maza9071
Moderator
Moderator

Male
Number of posts: 479
Age: 34
Location: pahang
Registration date: 2008-05-01

Back to top Go down

Re: Tafakur dalam perspektif psikologi islam

Post by cupi_ketchum on Sun Apr 18, 2010 5:48 pm

Terima kasih kerana berkongsi. Saya memang memerlukan ini. Thanks bro.

cupi_ketchum
Otai Poster
Otai Poster

Male
Number of posts: 2447
Age: 25
Location: Wilayah Persekutuan Labuan
Registration date: 2010-01-01

Back to top Go down

Re: Tafakur dalam perspektif psikologi islam

Post by Paranorms on Mon Apr 19, 2010 9:24 am

nice sharing...tafakkur mmg sgt baik, byk manfaat zahir dan batin Smile

..........................................................................................................................................................................................

Salam Sejahtera, Semoga Anda dan Semua Makhluk Berbahagia
Senyum, Relax, Pasrah

Paranorms
Moderator
Moderator

Male
Number of posts: 2274
Age: 25
Location: Kota Kinabalu
Registration date: 2008-02-12

Back to top Go down

Re: Tafakur dalam perspektif psikologi islam

Post by positiveenergy on Fri Apr 23, 2010 9:01 pm

Firman ALLAH SWT di dalam al-Quran:



(Iaitu) orang-orang yang menyebut dan mengingati Allah semasa mereka berdiri

dan duduk dan semasa mereka berbaring mengiring, dan mereka pula memikirkan tentang kejadian langit dan bumi (sambil berkata):

“Wahai Tuhan kami! Tidaklah Engkau menjadikan benda-benda ini dengan sia-sia,

Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari azab neraka.”

[Ali Imran 3:191]

Ayat ini mengajarkan bacaan zikir yang sunat di baca apabila kita bertafakur tentang ciptaan ALLAH yang ada sekeliling kita.

positiveenergy
Moderator
Moderator

Male
Number of posts: 87
Age: 34
Location: Alor Star, Kuala Lumpur,
Registration date: 2009-06-05

http://urutbekamsihat.blogspot.com/

Back to top Go down

Re: Tafakur dalam perspektif psikologi islam

Post by roy mustang on Thu May 06, 2010 2:38 am

bertafakur penuh keindahan disseertai aturan zikir pernafasan yg penuh tertib .... menurunkan kadar gelombang yg tidak teratur kepada gelombang tenang...amat shahdu diwaktu itu.....marilah kita merenungkan bersama sama

roy mustang
Rakan Baru
Rakan Baru

Male
Number of posts: 9
Age: 17
Location: beuffort,sabah
Registration date: 2010-05-06

Back to top Go down

Re: Tafakur dalam perspektif psikologi islam

Post by maza9071 on Wed Dec 22, 2010 4:40 am

TAFAKUR ILAHIYAH
Bismillah hirRahman Nirrahim

Firman Allah swt:

“Demi masa, sesungguhnya manusia itu dalam kerugian,kecuali orang-orang yang beriman dan beramal soleh, dan mereka pula berpesan-pesan dengan kebenaran serta berpesan-pesan dengan kesabaran.”(Al-Asr:1-3)

Maha Besar Allah yang menjadikan diri-Nya sebagai satu-satunya yang sedang melihat dan menatap setiap gerak dan langkah, mendengar sehalus apapun bisikan, mendengar degup-degup setiap jantung, dan mengalirkan setiap darah. Dialah yang tidak pernah jauh dan lalai dalam mengurus setiap makhluk yang Ia ciptakan. Ia menjadi satu-satunya Pengasih yang tiada bandingan, kerana tidak pernah membeza-bezakan pemberian-Nya kepada sesiapapun. Dialah kekasih yang tidak pernah mungkir dan rakan yang amat setia lagi membantu di semua situasi. Dialah yang menjadi matlamat dan harta yang paling bernilai.

Nabi saw bersabda:

“Bersegeralah kamu kepada kebaikan,muda sebelum datang tua, sihat sebelum datang sakit, kaya sebelum miskin, lapang sebelum sibuk, hidup sebelum datang ajal.”

Nabi saw bersabda:

“Menuntut ilmu wajib bagi tiap-tiap orang Islam”

Firman Allah:Adakah sama orang yang berilmu dengan orang tidak berilmu?(Az-Zumar:9)
Ilmu adalah cahaya,ilmu adalah penyuluh.Tanpa ilmu manusia dalam kegelapan,manusia mudah tersesat.Justeru itu ilmu mesti mendahului amal,amal tanpa ilmu bagaikan debu yang berterbangan.Orang yang tiada ilmu mudah ditipu oleh syaitan, mereka mudah tersesat dengan manusia yang pandai bercakap, yang mempunyai kelebihan dan sebagainya.Jika kita ingin menghidupkan hati, tiada jalan lain untuk menempuhnya melainkan dengan jalan ibadah.Apabila kita mahu beribadah, kita mestilah berilmu kerana ibadah tanpa ilmu akan hancur malah penuh kerosakan.

Pendidikan itu mestilah bermula dari pembinaan rohaniah. Pembinaan insan yang hanya terhenti setakat memantapkan 'mind-setting' tidaklah tepat mengikut saranan Nabi Muhammad s.a.w. Perubahan itu perlu bermula dari dalam lubuk diri. Tafakur Ilahiyah memulakan perjalanan rohaniah insan kepada Tuhan dengan Falsafah & Methologi yang diwarisi dari kedalaman lautan khazanah para ulama.

Sesungguhnya dalam jasad anak Adam ada seketul daging, jika BAIK ia, maka BAIKlah seluruh jasad, jika FASAD (Rosak) ia, maka FASADlah seluruhnya. Ketahuilah ia adalah hati – (Hadith Riwayat Bukhari Muslim).


Perbezaan ilmu tenaga Dalam & ilmu tenaga Rohani

Ilmu tenaga Dalam adalah ilmu yang berdasarkan latihan pada beberapa fakulti manusia seperti latihan nafas dan kuasa minda.Ia boleh dipelajari oleh sesiapapun sama ada ia Islam atau tidak.Cuma bila tenaga dalam diajar oleh Islam, ia memasukkan beberapa kalimah zikir pada setiap pergerakan ketika melakukan pernafasan dan meditasi.(Mungkin ini kaedah mereka membawa masyarakat terutamanya anak-anak muda supaya mengingati Allah, semoga Allah memberkati keikhlasan mereka.)

Disamping itu ada juga yang menggunakan jampi serapah, menggunakan khadam jin dan yang lebih bahaya menggunakan syaitan.Ilmu seperti ini diberi Tuhan kepada sesiapa sahaja kerana ia adalah termasuk hukum fizik.Justeru jangan hairan melihat ramai orang yang mempunyai kebatinan yang hebat, dapat melakukan pelbagai keajaiban dan ada di kalangan mereka yang berzikir berpuluh ribu sehari, tetapi sangat lemah dalam pengamalan Islam pada diri dan keluarga mereka, malah pengetahuan tentang agama Allah juga lemah.

Mereka masih lagi melakukan maksiat dan mempunyai sifat takbur, riak, tamak dengan dunia, menipu dan sebagainya.Ini disebabkan pengamalan mereka sama ada dalam gerak langkah, bentuk latihan nafas atau meditasi walaupun mempunyai kalimah al-Qur’an dan zikir, tenaga zikir tadi tidak menjadi tenaga pembersih rohani tetapi kepada membina tenaga dalam semata-mata.Inilah yang disabdakan Nabi saw:

”Bermula amal itu dengan niat.”

Iaitu mereka akan memperolehi apa yang diniatkan.

Berlainan dengan tenaga rohani seperti memperolihi ilham, kasyaf, menyembuhkan penyakit, menghancurkan ilmu-ilmu hitam dan sebagainya, ia merupakan anugerah Allah swt kepada hamba-hambaNya yang dikasihi.Mereka hanya mahu menuju pembersihan rohani dan kembali makrifat kepada Tuhan yang dirindui.Tenaga ayat-ayat Allah, ibadah, melakukan kebaikan, bertafakur, melakukan latihan konsenstrasi (penumpuan) adalah semata-mata menghampiri Allah swt.

Firman Allah swt:

“Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh dijalanKu, ia akan dibuka jalan (Ilham) baginya, sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (Al-Ankaabut:69)

Kekuatan kerohanian akan datang sendiri tanpa diminta-minta kerana kerohanian mereka telah tenggelam dalam kota Allah swt, inilah yang disebut oleh Allah swt dalam satu hadis Qudsi:

“Barang siapa yang berada dalam kota-Ku, Aku adalah penjaganya.”

Tenaga Rohani dan latihan

“Tidak aku jadikan manusia melainkan untuk menyimpan rahsia-Ku dan sesungguhnya manusia itu rahsia-Ku dari Akulah yang menjadi rahsianya.:(Hadith)

Tenaga Rohani yang dimaksudkan dalam latihan ini adalah untuk membina kembali potensi Ruh kepada mengenal Tuhannya.Apabila disebut mengenal Tuhan, ia terbahagi kepada empat bahagian:

:- Mengenal secara Taqlid –:- Iaitu mengenal Allah hanya pada nama tidak mempunyai pengetahuan yang mantap tentang Ilmu KeTuhanan.

:-Mengenal secara Ilmu Yakin -Martabat Syariat:Iaitu mengenal Allah dengan jalan mengenal wujud makhluk yaini bagaimana mengikut cara ilmu usuluddin.Martabat ini adalah ibarat kenal buah durian melalui kulit lahir sahaja.

:- Mengenal secara Ainul Yakin-Martabat Makrifat:Iaitu mengenal Allah dengan jalan hadir pengetahuan rasa (dzauk) ke dalam hati.Ibarat kenal isi durian setelah dikoyak kulit tetapi belum dimakan (dirasa)

:- Mengenal secara Haqqul Yakin-Martabat Hakikat:Iaitu mengenal Allah dengan jalan hadir kedalam hati rasa syuhud yang ada kemanisan dan kelazatan, ibarat dapat merasa kelazatan durian itu setelah ia dapat mengecap isinya.Keimanan yang dicapai melalui ilmu ini hasil daripada musyahadah, yakni hatinya sentiasa berpandangan dengan Allah Taala pada setiap masa.Inilah iman yang haq,yang lebih tinggi kedudukannya dari iman “Ainul Yakin”.

Oleh itu muhasabah diri kita, adakah kita merasai dalam dada bahwa Tuhan sentiasa melihat atau mendengar perkataan kita, atau kita merasai sentiasa bersama dengan Tuhan di mana sahaja kita berada,Kalau tiada (perasaan seperti itu), bermakna ilmu kita belum menjunam kedalam dada.Kita akan lemah keyakinan, kita akan hilang Tuhan apabila berlaku masaalah.Ketika solat, kita tidak dapat mencapai kelazatan dan maqam ihsan, ia hanyalah perbuatan untuk melepaskan diri dari dosa syariat sahaja.Bahkan beribadah dengan penuh kelalaian adalah syarat menjadi penghuni neraka.Na’uzubiLahi min dzalik.

Inilah yang dikatakan ilmu penuh pada fikiran tetapi dada kosong dengan takut pada Allah.

“Kamu hendaklah beribadah kepada Allah seolah-olah kamu melihat-Nya.Jika kamu tidak melihat-Nya,sesungguhnya Dia melihatmu.”(Bukhari dan Muslim daripada Abu Hurairah)

Bagaimana mengembalikan potensi Ruh?

Ruh itu adalah diri kita yang sebenarnya.Yang kita harus tahu mengenai sifat-sifatnya dan asal usulnya kerana (ruh) inilah yang akan kembali kehadrat Allah, dan bukannya diri jasad ini.Jasad hanya menjadi pembungkus diri batin yang sifatnya (mahdas) dan akan hancur ditelan bumi.

Pembersihan Ruh yang tidak melalui jalan kenabian tidak akan membawa manusia kepada makrifat, tetapi akan membawanya kepada bentuk khayalan di alam rohani yang dicipta oleh Jin dan Syaithan, sebagaimana mereka yang mengikuti thaghut dan sebagainya.Hal ini telah disedari oleh kebanyakan mereka kerana kekuatan rohani mereka hanya terbatas di alam malakut sedangkan kekuatan rohani orang Islam tiada batasannya.Justeru itu jika kerohanian Islam bertembung dengan yang bukan Islam, nescaya kerohanian bukan Islam rebah tersungkur.Hal ini disebutkan dalm Al-Qur;an:

Firman Allah swt:
“Jika datang kebenaran akan terhapuslah segala kebatilan”. (al-Isra:81)

Ilmu mereka tidak dapat menembusi seorang mukmin yang memiliki kekuatan kerohanian.Hal ini dapat kita lihat berlaku kepada pendakwah-pendakwah Islam, misalnya di alam Melayu, Nusantara dan India, di mana mereka dapat menundukkan kehebatan ilmu dari ketua-ketua agama luar dari Islam sehingga ramai di antara mereka memeluk Islam.Ini tidak lain kerana ilmu-ilmu kebatinan mereka bersandarkan kepada Jin dan Syaitan sedangkan ilmu kerohanian Islam bersandarkan kepada Allah swt.

Bagi mereka yang mahu membina tenaga kerohanian, perkara-perkara yang bersangkut paut dengan kehebatan yang berbentuk maknawi bukanlah menjadi tujuan.Mereka berpegang dengan kalimah”Ilaahi anta maqsudi, wa ridha kamatluubi” yang bermaksud, ”Hanyalah pada Mu Tuhan yang kami maksudkan dan keredhaan Engkau yang dicari”

Kerana ilmu-ilmu seperti itu adalah rendah disisi Allah swt kerana berbentuk duniawi yang akan hancur.Malah ilmu itu tidak dapat memberi perlindungan kepadanya dalam menghadapi sakaratul maut, ketika di alam barzakh dan seterusnya di alam akhirat.Mereka beramal semata-semata untuk menuju pembinaan iman kerana bagi mereka, sesiapa yang berjaya menjadi kekasih Allah swt, segala ilmu dan kelebihan dunia dan akhirat diperolehi dengan mudah.

Zikir sebagai sumber kekuatan
Firman Allah swt:
“….Ketahuilah dengan mengingati Allah itu hati menjadi tenang.”(ar-Ra’d:28)

Manusia mempunyai empat fakulti pada dirinya iaitu Ruh,emosi (nafsu), akal dan jasad.Ruh diturunkan kealam ini dalam jasad yang diciptakan dari tanah.Ia dibekalkan dengan nafsu dan akal.Manusia yang hanya hidup untuk kekuatan jasad, akal atau nafsu semata-mata akan tewas degan segala ujian hidup.

Kekuatan Ruh amat diperlukan untuk mengawal emosi, akal dan jasad,Kekuatan jasad amat terhad, ianya mengikut kata hatinya.Kekuatan daya intelek (IQ) juga terbatas, ia boleh merancang, bijak dalam tindakan dan sebagainya, tetapi dalam reality kehidupan banyak perkara luar dugaan akal berlaku.Akal menjadi lemah apabila perancangannya gagal, lemah bila menghadapi musibah kematian, kesakitan, perpisahan dan sebagainya.

Kekuatan emosi juga tidak kuat jika tidak bertaut dengan Tuhan.Manusia akan menjadi kuat jika ia dapat berhubung dengan Allah swt.Tetapi bagaimana mahu berhubung denganNya walaupun Ia lebih dekat dari leher (halkum) insan itu sendiri.

Firman Allah:
“Dan Kami lebih dekat kepadanya dari urat lehernya sendiri.” (al-Qaf:16)

Kekuatan ruh dalam berhubungan dengan Allah berdasarkan ingatan.Tanpa ingat padaNya, ruh tidak berhubung denganNya.Ramai manusia meninggalkan Tuhan tanpa disedari sedang Tuhan tidak pernah meninggalkannya.Apabila ada kesusahan, baru manusia teringat padaNya,
merayu-rayu padanya, Tetapi apabila mereka diberi kesenangan, mereka lupa padaNya.

Kaum sufi memulakan pembinaan manusia dengan kekuatan ruh,bukannya akal atau emosi.Ia membina kekuatan ingatan pada Allah sehingga perasaannya terhadap Allah begitu mendalam.

Zikir yang bersungguh-sungguh menyebabkan ruh seseorang itu mempunyai dzauk atau asyik dengan Tuhannya.Tambatan hamba dengan Tuhan bukan sekadar hafalan sifat-sifatNya, tetapi ialah merasai kehampiran dengan Tuhan sehingga hati mereka gementar apabila disebut nama Allah, air mata mereka menitis apabila mengingatiNya.Mereka mersa rindu, cinta sehingga perasaan itu, menyebabkan emosi, akal dan jasad turut bersama-sama merasainya.

Firman Allah swt: "Maka ingatlah kepada-Ku, nescaya Aku ingat kepadamu (bersama dan melindungi hambaNya).... (Al-Baqarah:152)

Allah memberi jaminnan bahwa hamba yang kukuh jiwanya dengan Allah akan mendapat perlindunganNya dari gangguan syaitan.Zikir yang bersisilah dan dilakukan dengan teknik yang betul akan mensucikan hati pengamalnya dan meningkatkan ubudiyahnya kepada Allah.Semangkin tinggi ubudiyyah, semangkin tawadhuk dan semangkin kerdil hamba itu terhadap Tuhannya sehingga ke tahap merasa hilang wujud diri (fana) , maka semangkin kuatlah Tenaga Illahi yang terlimpah pada qalbinya.Ia selari dengan perinsip sains bahwa semangkin kecil sesuatu atom itu , maka semangkin hebat tenaga dan kuasanya.

Tenaga zikir adalah tenaga dari Illahi , ia mempunyai cahaya yang hebat yang datang dari alam Lahut.Energi zikir akan menyucikan segala kotoran pada qalbi sehingga qalbinya akan terkeluar cahaya alam Lahut yang tertutup selama ini disebabkan kekotorannya.Cahaya ini akan bersinar dan meningkatkan frekuensi cahaya jiwanya (mazmumah).Ia juga akan bergerak menguatkan Ruh Sultani iaitu cahaya akal sehingga akalnya mempunyai daya ketahanan yang kuat, berfikiran tajam dan kreatif.Getaran cahayanya yang tinggi ini juga akan menguatkan Ruh Jasmani atau tenaga dalam atau gelombang elektromagnet yang bergerak aktif dalam tubuhnya. Gelombang atau tenaga inilah yang mengawal segala fungsi dan organ dalam tubuh manusia.Apabila tenaga ini terganggu atau lemah, maka ia akan mendedahkan seseorang itu kepada serangan pelbagai penyakit.Tenaga dalam badan ini juga mewujudkan medan magnetik yang juga disebut aura.Ia mengelilingi seluruh badan dan menjadi benteng pertahanan diri seseorang dan dapat mengesan gelombang-gelombang di sekelilingnya sama ada positif atau negatif.Semangkin kuat tenaga elektromagnet dalam tubuh, semangkin kuatlah medan magnet atau benteng dirinya.

Kaum sufi berzikir dengan mengikut garisan tertentu pada anggota tubuhnya dan dibuat berulangkali sehingga terasa kesan pada qalbinya seperti panas atau pedih.Ia selari denga hukum fizik yang menyatakan bahwa melakukan gerakan atau geseran pada tempat yang sama secara ulang alik akan menghasilkan tenaga elektrik.Tenaga yang diperolehi itu diqasadkannya untuk penyucian ammarahnya.Seseorang ahli zikir atau orang yang khusyuk dalam ibadah mempunyai ketenangan yang tinggi.Sains mengatakan semangkin tenang atau hening sesuatu objek itu, maka gerakan atom atau tenaga yang berhasil amatlah laju.Justeru, semangkin seseorang itu tenang, tenaganya makin kuat dan laju.Tenaga yang ada pada dirinya itu boleh diqasadkan perbagai kegunaan zahir dan batin.

Ingat ini dituntut oleh Allah dalam firmanNya yang berbunyi:

Firman Allah swt:

“Hendaklah kamu ingat akan Allah diwaktu berdiri, diwaktu duduk, dan diwaktu berbaring.”(An-Nisa:103)

“Hendaklah kamu ingat Tuhan yang telah memeliharamu didalam hati dengan rasa hormat dan takut (serta harap akan kurnia-Nya) dengan tidak menyebut dimulut pagi dan petang (terus menerus) dan janganlah kamu termasuk orang yang lalai”.(al-A’raf:205)


artikel tafakur kerohanian

maza9071
Moderator
Moderator

Male
Number of posts: 479
Age: 34
Location: pahang
Registration date: 2008-05-01

Back to top Go down

Re: Tafakur dalam perspektif psikologi islam

Post by cupi_ketchum on Wed Dec 22, 2010 10:41 am

Semakin banyak ilmu yg dikongsikan. Terima kasih.

..........................................................................................................................................................................................
Salamun Qaulam Mir Rabbin Rahim

http://www.paranorms.org/t767-mengajar-anak-cara-bersedekah-yg-efektif?highlight=mengajar+anak
http://www.paranorms.org/t617-erti-sin-ilahi-yang-sebenar?highlight=erti
http://www.paranorms.org/t618-erti-sebenar-sin-ilahi-double-post-utk-bacaan-bukan-ahli?highlight=erti

cupi_ketchum
Otai Poster
Otai Poster

Male
Number of posts: 2447
Age: 25
Location: Wilayah Persekutuan Labuan
Registration date: 2010-01-01

Back to top Go down

Re: Tafakur dalam perspektif psikologi islam

Post by maybal on Sun Dec 26, 2010 10:58 am

artikelnya bagus..

apalagi kalau udah punya ilmu sebegini terserap dalam amalan dan penghayatan serta terserlah hasilnya..

maybal
Aktif
Aktif

Female
Number of posts: 1004
Age: 23
Location: malaysia
Registration date: 2010-06-23

Back to top Go down

Re: Tafakur dalam perspektif psikologi islam

Post by maza9071 on Mon Jan 17, 2011 2:53 am

Tafakur

Rasulullah saw. pernah bersabda, “Tafakkuruu fii khalqiLlahi wa laa tafakkaruu fiiLlahi, berpikirlah kamu tentang ciptaan Allah, dan janganlah kamu berpikir tentang Dzat Allah.” Hadits yang diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dari Ibnu Abbas ini menurut Syaikh Nashiruddin Al-Bani dalam kitab Shahihul Jami’ish Shaghir dan Silsilahtu Ahadits Ash-Shahihah berderajat hasan.

Hadits itu berbicara tentang salah satu ciri khas manusia yang membedakanya dari makhluk yang lain, bahwa manusia adalah makhluk yang berpikir. Dengan kemampuan itulah manusia bisa meraih berbagai kemajuan, kemanfaatan, dan kebaikan. Namun, sejarah juga mencatat bahwa tidak sedikit manusia mengalami kesesatan dan kebinasaan akibat berpikir.

Karena itu, Rasulullah saw. menghendaki kita, kaum muslimin, untuk punya budaya tafakur yang akan bisa mengantarkan kita kepada kemajuan, kemanfaatan, kebaikan, ketaatan, keimanan, dan ketundukan kepada Allah Ta’ala. Agar tujuan itu tercapai, Rasulullah saw. memberi rambu-rambu agar kita tidak salah dalam bertafakur. Rasulullah saw. memerintahkan kita untuk bertafakur mengenai makhluk ciptaan Allah swt. Beliau melarang kita berpikir tentang Dzat Allah karena kita tidak akan mampu menjangkaunya, dan berpikir tentang Dzat Alllah bisa mengantarkan kita kepada kesesatan dan kebinasaan.

FADHAAILUT TAFAKKURI (KEUTAMAAN TAFAKUR)

Setidaknya ada empat keutamaan tafakur, yaitu:

1. Allah memuji orang-orang yang senantiasa bertafakur dan berdzikir dalam setiap situasi dan kondisi dengan menceritakannya secara khusus dalam Al-Qur’an di surat Ali Imran ayat 190-191. Sa’id Hawa dalam Al-Mustakhlash Fi Tazkiyatil Anfus halaman 93 berkata, “Dari ayat ini kita memahami bahwa kemampuan akal tidak akan terwujud kecuali dengan perpaduan antara dzikir dan pikir pada diri manusia. Apabila kita mengetahui bahwa kesempurnaan akal berarti kesempurnaan seorang manusia, maka kita bisa memahami peran penting dzikir dan pikir dalam menyucikan jiwa manusia. Oleh karena itu, para ahli suluk yang berupaya mendekatkan diri kepada Allah senantiasa memadukan antara dzikir dan pikir di awal perjalanannya menuju Allah. Sebagai contoh, di saat bertafakur tentang berbagai hal, mereka mengiringinya dengan tasbih, tahmid, takbir, dan tahlil.”

2. Tafakur termasuk amal yang terbaik dan bisa mengungguli ibadah. Ada atsar yang diriwayatkan oleh Ibnu Hibban berbunyi, “Berpikir sesaat lebih utama daripada ibadah setahun.” Kenapa begitu? Karena, berpikir bisa memberi manfaat-manfaat yang tidak bisa dihasilkan oleh suatu ibadah yang dilakukan selama setahun. Abu Darda’ seorang sahabat yang terkenal sangat abid pernah ditanya tentang amalan yang paling utama, ia menjawab, “Tafakur.” Dengan tafakur seseorang bisa memahami sesuatu hingga hakikat, dan mengerti manfaat dari yang membahayakan. Dengan tafakur, kita bisa melihat potensi bahaya hawa nafsu yang tersembunyi di dalam diri kita, mengetahui tipu daya setan, dan menyadari bujuk rayu duniawi.

3. Tafakur bisa mengantarkan kita kepada kemuliaan dunia dan akhirat. Ka’ab bin Malik berkata, “Barangsiapa menghendaki kemuliaan akhirat, maka hendaknyalah ia memperbanyak tafakur.” Hatim menambahkan, “Dengan merenungi perumpamaan, bertambahlah ilmu pengetahuan; dengan mengingat-ingat nikmat Allah, bertambahlah kecintaan kepadaNya; dan dengan bertafakur, bertambahlah ketakwaan kepadaNya.” Imam Syafi’i menegaskan, “Milikilah kepandaian berbicara dengan banyak berdiam, dan milikilah kepandaian dalam mengambil keputusan dengan berpikir.” (lihat Mau’idhatul Mu’minin)

4. Tafakur adalah pangkal segala kebaikan. Ibnul Qayyim berkata, “Berpikir akan membuahkan pengetahuan, pengetahuan akan melahirkan perubahan keadaan yang terjadi pada hati, perubahan keadaan hati akan melahirkan kehendak, kehendak akan melahirkan amal perbuatan. Jadi, berpikir adalah asas dan kunci semua kebaikan. Hal ini bisa menunjukkan kepadamu keutamaan dan kemuliaan tafakur, dan bahwasanya tafakur termasuk amalan hati yang paling utama dan bermanfaat sampai-sampai dikatakan, ‘Tafakur sesaat lebih baik daripada ibadah setahun’. Tafakur bisa mengubah dari kelalaian menuju kesadaran, dan dari hal-hal yang dibenci Allah menuju hal-hal yang dicintaiNya, dari ambisi dan keserakahan menuju zuhud dan qana’ah, dari penjara dunia menuju keluasan akhirat, dari kesempitan kejahilan menuju bentangan ilmu pengetahuan, dari penyakit syahwat dan cinta kepada dunia menuju kesembuhan ruhani dan pendekatan diri kepada Allah, dari bencana buta, tuli, dan bisu menuju nikmat penglihatan, pendengaran, dan pemahaman tentang Allah, dan dari berbagai penyakit syubhat menuju keyakinan yang menyejukkan hati dan keimanan yang menentramkan.” (Miftah Daris Sa’adah: 226).

maza9071
Moderator
Moderator

Male
Number of posts: 479
Age: 34
Location: pahang
Registration date: 2008-05-01

Back to top Go down

Re: Tafakur dalam perspektif psikologi islam

Post by maza9071 on Mon Jan 17, 2011 2:54 am

NATAAIJUT TAFAKKURI (BUAH TAFAKUR)

1. Kita akan mengetahui hikmah dan tujuan penciptaan semua makhluk di langit dan bumi sehingga menambah keimanan dan rasa syukur.

Dan mengapa mereka tidak memikirkan tentang (kejadian) diri mereka? Allah tidak menjadikan langit dan bumi dan apa yang ada diantara keduanya melainkan dengan (tujuan) yang benar dan waktu yang ditentukan. dan Sesungguhnya kebanyakan di antara manusia benar-benar ingkar akan Pertemuan dengan Tuhannya. [Ar-Ruum, 8]

2. Kita bisa membedakan mana yang bermanfaat sehingga bersemangat untuk meraihnya, mana yang berbahaya hingga berusaha mengindarinya.

Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah: “Pada keduanya terdapat dosa yang besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya”. dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: ” yang lebih dari keperluan.” Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berpikir. (Al-Baqarah: 219)

3. Kita bisa memiliki keyakinan yang kuat mengenai sesuatu, dan menghindari diri dari sikap ikut-ikutan terhadap opini yang berkembang.

Katakanlah: “Sesungguhnya aku hendak memperingatkan kepadamu suatu hal saja, yaitu supaya kamu menghadap Allah (dengan ikhlas) berdua-dua atau sendiri-sendiri; kemudian kamu pikirkan (tentang Muhammad) tidak ada penyakit gila sedikitpun pada kawanmu itu. Dia tidak lain hanyalah pemberi peringatan bagi kamu sebelum (menghadapi) azab yang keras. (Saba: 46)

4. Kita bisa memperhatikan hak-hak diri kita untuk mendapatkan kebaikan, sehingga tidak hanya berusaha memperbaiki orang lain dan lupa pada diri sendiri.

Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaktian, sedang kamu melupakan diri (kewajiban) mu sendiri, padahal kamu membaca Al-Kitab (Taurat)? Maka tidaklah kamu berpikir? (Al-Baqarah: 44)

5. Kita bisa memahami bahwa akhirat itu lebih utama, dan dunia hanya sarana untuk membangun kebahagiaan akhirat.

Kami tidak mengutus sebelum kamu, melainkan orang laki-laki yang Kami berikan wahyu kepadanya di antara penduduk negeri. Maka tidakkah mereka bepergian di muka bumi lalu melihat bagaimana kesudahan orang-orang sebelum mereka (yang mendustakan Rasul), dan sesungguhnya kampung akhirat adalah lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memikirkannya? (Yusuf: 109)

Dan apa saja[1130] yang diberikan kepada kamu, maka itu adalah kenikmatan hidup duniawi dan perhiasannya; sedang apa yang di sisi Allah adalah lebih baik dan lebih kekal. Maka Apakah kamu tidak memahaminya? (Al-Qashash: 60). [1130] Maksudnya: hal-hal yang berhubungan dengan duniawi seperti, pangkat kekayaan keturunan dan sebagainya.

6. Kita bisa menghindari diri dari kebinasaan yang pernah menimpa orang-orang sebelum kita.

Maka apakah mereka tidak mengadakan perjalanan di muka bumi sehingga mereka dapat memperhatikan bagaimana kesudahan orang-orang sebelum mereka; Allah telah menimpakan kebinasaan atas mereka dan orang-orang kafir akan menerima (akibat-akibat) seperti itu. (Muhammad: 10)

7. Bisa menghindari diri dari siksa neraka karena bia memahami dan mengamalkan ajaran agama dan meninggalkan kemaksiatan dan dosa-dosa, terutama syirik.

Dan mereka berkata, “Sekiranya kami mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu) niscaya tidaklah kami termasuk penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala”. (Al-Mulk: 10)

Ah (celakalah) kamu dan apa yang kamu sembah selain Allah. Maka Apakah kamu tidak memahami? (Al-Anbiyaa’ : 67)

DHAWABITHUT TAFAKKURI (BATASAN TAFAKUR)

Imam Al-Ghazali berkata, “Ketahuilah bahwa semua yang ada di alam semesta, selain Allah, adalah ciptaan dan karya Allah Ta’ala. Setiap atom dan partikel, apapun memiliki keajaiban dan keunikan yang menunjukkan kebijaksanaan, kekuasaan, dan keagungan Allah Ta’ala. Mendata semuanya adalah sesuatu yang mustahil, karena seandainya lautan adalah tinta untuk menuliskan semua itu niscaya akan habis sebelum menuliskan sepersepuluhnya saja dari semua ciptaan dan karya-Nya.”

Jadi, tafakur adalah ibadah yang bebas dan terlepas dari ikatan segala sesuatu kecuali satu ikatan saja, yaitu tafakur mengenai Dzat Allah.

Saat bertafakur sebenarnya seorang muslim sedang berusaha meningkatkan ketaatan, menghentikan kemaksiatan, menghancurkan sifat-sifat destruktif dan menumbuhkembangkan sifat-sifat konstruktif yang ada dalam dirinya. Berhasil tidaknya hal itu dicapai sangat dipengaruhi banyak faktor, di antaranya:

1. Kedalaman ilmu
2. Konsentrasi pikiran
3. Kondiri emosional dan rasional
4. Faktor lingkungan
5. Tingkat pengetahuan tentang objek tafakur
6. Teladan dan pergaulan
7. Esensi sesuatu
8. Faktor kebiasaan


artikel Oleh: Mochamad Bugi

maza9071
Moderator
Moderator

Male
Number of posts: 479
Age: 34
Location: pahang
Registration date: 2008-05-01

Back to top Go down

Re: Tafakur dalam perspektif psikologi islam

Post by cupi_ketchum on Mon Jan 17, 2011 9:10 am

Terima kasih untuk perkongsian ini ya bro.

..........................................................................................................................................................................................
Salamun Qaulam Mir Rabbin Rahim

http://www.paranorms.org/t767-mengajar-anak-cara-bersedekah-yg-efektif?highlight=mengajar+anak
http://www.paranorms.org/t617-erti-sin-ilahi-yang-sebenar?highlight=erti
http://www.paranorms.org/t618-erti-sebenar-sin-ilahi-double-post-utk-bacaan-bukan-ahli?highlight=erti

cupi_ketchum
Otai Poster
Otai Poster

Male
Number of posts: 2447
Age: 25
Location: Wilayah Persekutuan Labuan
Registration date: 2010-01-01

Back to top Go down

Re: Tafakur dalam perspektif psikologi islam

Post by ifahuzir on Mon Jan 17, 2011 9:47 am

Artikel yang sangat baik..

Tafakur juga dapat melatih kita punya Penglihatan, Pendengaran, dan rasa (dari kulit & hati) agar lebih aktif. Firman Allah:

"Sehingga apabila mereka sampai ke neraka, (maka) pendengaran dan penglihatan serta kulit-kulit badan mereka menjadi saksi terhadap mereka, mengenai apa yang mereka telah kerjakan." (Fussilat 41:20)

p/s: tidak la saya maksudkan kene masuk neraka dulu yer.. hehehehe..

"Katakanlah (wahai Muhammad): "Allah yang menciptakan kamu (dari tiada kepada ada), dan mengadakan bagi kamu pendengaran dan penglihatan serta hati (untuk kamu bersyukur, tetapi) amatlah sedikit kamu bersyukur"." (Al-Mulk 67:23)

Saranan saya, agar kita dapat bertafakur dan dalam tafakur tersebut kita berfikir tentang kehebatan anugerahnya kepada kita mengenai 3 perkara ini.. PENGLIHATAN, PENDENGARAN dan HATI. Merasai akan kehebatanNya. Anugerah Tuhan Yang Maha Penyayang kepada hambanya.. 3 pacaindera ini adalah asas kepada setiap tindakan yang kita laksanakan..

Let Move gang..

ifahuzir
Aktif
Aktif

Male
Number of posts: 1858
Age: 32
Location: Kuala Lumpur - Sepang
Registration date: 2010-10-18

Back to top Go down

Re: Tafakur dalam perspektif psikologi islam

Post by cupi_ketchum on Mon Jan 17, 2011 9:49 am

Ya betul.

..........................................................................................................................................................................................
Salamun Qaulam Mir Rabbin Rahim

http://www.paranorms.org/t767-mengajar-anak-cara-bersedekah-yg-efektif?highlight=mengajar+anak
http://www.paranorms.org/t617-erti-sin-ilahi-yang-sebenar?highlight=erti
http://www.paranorms.org/t618-erti-sebenar-sin-ilahi-double-post-utk-bacaan-bukan-ahli?highlight=erti

cupi_ketchum
Otai Poster
Otai Poster

Male
Number of posts: 2447
Age: 25
Location: Wilayah Persekutuan Labuan
Registration date: 2010-01-01

Back to top Go down

Re: Tafakur dalam perspektif psikologi islam

Post by maybal on Mon Jan 17, 2011 10:43 am

maza quote..
Saat bertafakur sebenarnya seorang muslim sedang berusaha meningkatkan ketaatan, menghentikan kemaksiatan, menghancurkan sifat-sifat destruktif dan menumbuhkembangkan sifat-sifat konstruktif yang ada dalam dirinya. Berhasil tidaknya hal itu dicapai sangat dipengaruhi banyak faktor, di antaranya:

1. Kedalaman ilmu
2. Konsentrasi pikiran
3. Kondiri emosional dan rasional
4. Faktor lingkungan
5. Tingkat pengetahuan tentang objek tafakur
6. Teladan dan pergaulan
7. Esensi sesuatu
8. Faktor kebiasaan

ifahuzir quote..

Saranan saya, agar kita dapat bertafakur dan dalam tafakur tersebut kita berfikir tentang kehebatan anugerahnya kepada kita mengenai 3 perkara ini.. PENGLIHATAN, PENDENGARAN dan HATI. Merasai akan kehebatanNya. Anugerah Tuhan Yang Maha Penyayang kepada hambanya.. 3 pacaindera ini adalah asas kepada setiap tindakan yang kita laksanakan..

dalam tafakur harusnya kita banyak berzikir terusin dihayati dalam2 sampe ke Alloh..
ga usah difikir kerana ini memberatkan tuning untuk sampe ke tujuan.... yah dilayanin aja zikirnya...kerna kita mengharapkan rahmatNya bukan dari ilmu yang kita punya yang sedikit ini...

dengan penuh sabar kita..atas keizinan dan anugerahNya makanya nanti kita akan diperlihatkan segala perjalanan niat kita sebelumnya...dalam rupa bentuk simbolik, gambaran, sensasi atau penceritaan...

di layanin aja tanpa berusaha untuk berfikir..kerana ini akan terhenti limpahan masukannya.....berfikir masih main2 akal sedar sedangkan masukannya ke batin/ruh kita...yang dipancar dari sirr..

semakin tinggi tuning kita ke Alloh ..semakin terpancar cahaya ilahi terusin melenyapkan segala unsur negatif dan kotor dalam diri.... proses pembersihan dan penyucian kerohanian semakin baik..

mudah2an kita termasuk dikalangan mereka2 yang dilimpahin rezeki keilmuan ini

maybal
Aktif
Aktif

Female
Number of posts: 1004
Age: 23
Location: malaysia
Registration date: 2010-06-23

Back to top Go down

Re: Tafakur dalam perspektif psikologi islam

Post by ifahuzir on Mon Jan 17, 2011 11:52 am

Iya.. SI adalah shortcut.. hehehe

ifahuzir
Aktif
Aktif

Male
Number of posts: 1858
Age: 32
Location: Kuala Lumpur - Sepang
Registration date: 2010-10-18

Back to top Go down

Re: Tafakur dalam perspektif psikologi islam

Post by cupi_ketchum on Mon Jan 17, 2011 1:23 pm

Satu lagi keistimewaan SI, org2 yg benar2 alim sangat suka berkawan dan bercerita dgn kita walaupun kadang2 nampak tak senonoh (Macam saya la).

..........................................................................................................................................................................................
Salamun Qaulam Mir Rabbin Rahim

http://www.paranorms.org/t767-mengajar-anak-cara-bersedekah-yg-efektif?highlight=mengajar+anak
http://www.paranorms.org/t617-erti-sin-ilahi-yang-sebenar?highlight=erti
http://www.paranorms.org/t618-erti-sebenar-sin-ilahi-double-post-utk-bacaan-bukan-ahli?highlight=erti

cupi_ketchum
Otai Poster
Otai Poster

Male
Number of posts: 2447
Age: 25
Location: Wilayah Persekutuan Labuan
Registration date: 2010-01-01

Back to top Go down

Re: Tafakur dalam perspektif psikologi islam

Post by maza9071 on Sat Jun 11, 2011 2:44 pm

Rasulullah saw. pernah bersabda, “Tafakkuruu fii khalqiLlahi wa laa tafakkaruu fiiLlahi, berpikirlah kamu tentang ciptaan Allah, dan janganlah kamu berpikir tentang Dzat Allah.” Hadits yang diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dari Ibnu Abbas ini menurut Syaikh Nashiruddin Al-Bani dalam kitab Shahihul Jami’ish Shaghir dan Silsilahtu Ahadits Ash-Shahihah berderajat hasan.

Hadits itu berbicara tentang salah satu ciri khas manusia yang membedakanya dari makhluk yang lain, bahwa manusia adalah makhluk yang berpikir. Dengan kemampuan itulah manusia bisa meraih berbagai kemajuan, kemanfaatan, dan kebaikan. Namun, sejarah juga mencatat bahwa tidak sedikit manusia mengalami kesesatan dan kebinasaan akibat berpikir.

Karena itu, Rasulullah saw. menghendaki kita, kaum muslimin, untuk punya budaya tafakur yang akan bisa mengantarkan kita kepada kemajuan, kemanfaatan, kebaikan, ketaatan, keimanan, dan ketundukan kepada Allah Ta’ala. Agar tujuan itu tercapai, Rasulullah saw. memberi rambu-rambu agar kita tidak salah dalam bertafakur. Rasulullah saw. memerintahkan kita untuk bertafakur mengenai makhluk ciptaan Allah swt. Beliau melarang kita berpikir tentang Dzat Allah karena kita tidak akan mampu menjangkaunya, dan berpikir tentang Dzat Alllah bisa mengantarkan kita kepada kesesatan dan kebinasaan.

FADHAAILUT TAFAKKURI (KEUTAMAAN TAFAKUR)

Setidaknya ada empat keutamaan tafakur, yaitu:

1. Allah memuji orang-orang yang senantiasa bertafakur dan berdzikir dalam setiap situasi dan kondisi dengan menceritakannya secara khusus dalam Al-Qur’an di surat Ali Imran ayat 190-191. Sa’id Hawa dalam Al-Mustakhlash Fi Tazkiyatil Anfus halaman 93 berkata, “Dari ayat ini kita memahami bahwa kemampuan akal tidak akan terwujud kecuali dengan perpaduan antara dzikir dan pikir pada diri manusia. Apabila kita mengetahui bahwa kesempurnaan akal berarti kesempurnaan seorang manusia, maka kita bisa memahami peran penting dzikir dan pikir dalam menyucikan jiwa manusia. Oleh karena itu, para ahli suluk yang berupaya mendekatkan diri kepada Allah senantiasa memadukan antara dzikir dan pikir di awal perjalanannya menuju Allah. Sebagai contoh, di saat bertafakur tentang berbagai hal, mereka mengiringinya dengan tasbih, tahmid, takbir, dan tahlil.”

2. Tafakur termasuk amal yang terbaik dan bisa mengungguli ibadah. Ada atsar yang diriwayatkan oleh Ibnu Hibban berbunyi, “Berpikir sesaat lebih utama daripada ibadah setahun.” Kenapa begitu? Karena, berpikir bisa memberi manfaat-manfaat yang tidak bisa dihasilkan oleh suatu ibadah yang dilakukan selama setahun. Abu Darda’ seorang sahabat yang terkenal sangat abid pernah ditanya tentang amalan yang paling utama, ia menjawab, “Tafakur.” Dengan tafakur seseorang bisa memahami sesuatu hingga hakikat, dan mengerti manfaat dari yang membahayakan. Dengan tafakur, kita bisa melihat potensi bahaya hawa nafsu yang tersembunyi di dalam diri kita, mengetahui tipu daya setan, dan menyadari bujuk rayu duniawi.

3. Tafakur bisa mengantarkan kita kepada kemuliaan dunia dan akhirat. Ka’ab bin Malik berkata, “Barangsiapa menghendaki kemuliaan akhirat, maka hendaknyalah ia memperbanyak tafakur.” Hatim menambahkan, “Dengan merenungi perumpamaan, bertambahlah ilmu pengetahuan; dengan mengingat-ingat nikmat Allah, bertambahlah kecintaan kepadaNya; dan dengan bertafakur, bertambahlah ketakwaan kepadaNya.” Imam Syafi’i menegaskan, “Milikilah kepandaian berbicara dengan banyak berdiam, dan milikilah kepandaian dalam mengambil keputusan dengan berpikir.” (lihat Mau’idhatul Mu’minin)

4. Tafakur adalah pangkal segala kebaikan. Ibnul Qayyim berkata, “Berpikir akan membuahkan pengetahuan, pengetahuan akan melahirkan perubahan keadaan yang terjadi pada hati, perubahan keadaan hati akan melahirkan kehendak, kehendak akan melahirkan amal perbuatan. Jadi, berpikir adalah asas dan kunci semua kebaikan. Hal ini bisa menunjukkan kepadamu keutamaan dan kemuliaan tafakur, dan bahwasanya tafakur termasuk amalan hati yang paling utama dan bermanfaat sampai-sampai dikatakan, ‘Tafakur sesaat lebih baik daripada ibadah setahun’. Tafakur bisa mengubah dari kelalaian menuju kesadaran, dan dari hal-hal yang dibenci Allah menuju hal-hal yang dicintaiNya, dari ambisi dan keserakahan menuju zuhud dan qana’ah, dari penjara dunia menuju keluasan akhirat, dari kesempitan kejahilan menuju bentangan ilmu pengetahuan, dari penyakit syahwat dan cinta kepada dunia menuju kesembuhan ruhani dan pendekatan diri kepada Allah, dari bencana buta, tuli, dan bisu menuju nikmat penglihatan, pendengaran, dan pemahaman tentang Allah, dan dari berbagai penyakit syubhat menuju keyakinan yang menyejukkan hati dan keimanan yang menentramkan.” (Miftah Daris Sa’adah: 226).

NATAAIJUT TAFAKKURI (BUAH TAFAKUR)

1. Kita akan mengetahui hikmah dan tujuan penciptaan semua makhluk di langit dan bumi sehingga menambah keimanan dan rasa syukur.

Dan mengapa mereka tidak memikirkan tentang (kejadian) diri mereka? Allah tidak menjadikan langit dan bumi dan apa yang ada diantara keduanya melainkan dengan (tujuan) yang benar dan waktu yang ditentukan. dan Sesungguhnya kebanyakan di antara manusia benar-benar ingkar akan Pertemuan dengan Tuhannya. [Ar-Ruum, 8]

2. Kita bisa membedakan mana yang bermanfaat sehingga bersemangat untuk meraihnya, mana yang berbahaya hingga berusaha mengindarinya.

Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah: “Pada keduanya terdapat dosa yang besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya”. dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: ” yang lebih dari keperluan.” Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berpikir. (Al-Baqarah: 219)

3. Kita bisa memiliki keyakinan yang kuat mengenai sesuatu, dan menghindari diri dari sikap ikut-ikutan terhadap opini yang berkembang.

Katakanlah: “Sesungguhnya aku hendak memperingatkan kepadamu suatu hal saja, yaitu supaya kamu menghadap Allah (dengan ikhlas) berdua-dua atau sendiri-sendiri; kemudian kamu pikirkan (tentang Muhammad) tidak ada penyakit gila sedikitpun pada kawanmu itu. Dia tidak lain hanyalah pemberi peringatan bagi kamu sebelum (menghadapi) azab yang keras. (Saba: 46)

4. Kita bisa memperhatikan hak-hak diri kita untuk mendapatkan kebaikan, sehingga tidak hanya berusaha memperbaiki orang lain dan lupa pada diri sendiri.

Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaktian, sedang kamu melupakan diri (kewajiban) mu sendiri, padahal kamu membaca Al-Kitab (Taurat)? Maka tidaklah kamu berpikir? (Al-Baqarah: 44)

5. Kita bisa memahami bahwa akhirat itu lebih utama, dan dunia hanya sarana untuk membangun kebahagiaan akhirat.

Kami tidak mengutus sebelum kamu, melainkan orang laki-laki yang Kami berikan wahyu kepadanya di antara penduduk negeri. Maka tidakkah mereka bepergian di muka bumi lalu melihat bagaimana kesudahan orang-orang sebelum mereka (yang mendustakan Rasul), dan sesungguhnya kampung akhirat adalah lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memikirkannya? (Yusuf: 109)

Dan apa saja[1130] yang diberikan kepada kamu, maka itu adalah kenikmatan hidup duniawi dan perhiasannya; sedang apa yang di sisi Allah adalah lebih baik dan lebih kekal. Maka Apakah kamu tidak memahaminya? (Al-Qashash: 60). [1130] Maksudnya: hal-hal yang berhubungan dengan duniawi seperti, pangkat kekayaan keturunan dan sebagainya.

6. Kita bisa menghindari diri dari kebinasaan yang pernah menimpa orang-orang sebelum kita.

Maka apakah mereka tidak mengadakan perjalanan di muka bumi sehingga mereka dapat memperhatikan bagaimana kesudahan orang-orang sebelum mereka; Allah telah menimpakan kebinasaan atas mereka dan orang-orang kafir akan menerima (akibat-akibat) seperti itu. (Muhammad: 10)

7. Bisa menghindari diri dari siksa neraka karena bia memahami dan mengamalkan ajaran agama dan meninggalkan kemaksiatan dan dosa-dosa, terutama syirik.

Dan mereka berkata, “Sekiranya kami mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu) niscaya tidaklah kami termasuk penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala”. (Al-Mulk: 10)

Ah (celakalah) kamu dan apa yang kamu sembah selain Allah. Maka Apakah kamu tidak memahami? (Al-Anbiyaa’ : 67)

DHAWABITHUT TAFAKKURI (BATASAN TAFAKUR)

Imam Al-Ghazali berkata, “Ketahuilah bahwa semua yang ada di alam semesta, selain Allah, adalah ciptaan dan karya Allah Ta’ala. Setiap atom dan partikel, apapun memiliki keajaiban dan keunikan yang menunjukkan kebijaksanaan, kekuasaan, dan keagungan Allah Ta’ala. Mendata semuanya adalah sesuatu yang mustahil, karena seandainya lautan adalah tinta untuk menuliskan semua itu niscaya akan habis sebelum menuliskan sepersepuluhnya saja dari semua ciptaan dan karya-Nya.”

Jadi, tafakur adalah ibadah yang bebas dan terlepas dari ikatan segala sesuatu kecuali satu ikatan saja, yaitu tafakur mengenai Dzat Allah.

Saat bertafakur sebenarnya seorang muslim sedang berusaha meningkatkan ketaatan, menghentikan kemaksiatan, menghancurkan sifat-sifat destruktif dan menumbuhkembangkan sifat-sifat konstruktif yang ada dalam dirinya. Berhasil tidaknya hal itu dicapai sangat dipengaruhi banyak faktor, di antaranya:

Kedalaman ilmu
Konsentrasi pikiran
Kondiri emosional dan rasional
Faktor lingkungan
Tingkat pengetahuan tentang objek tafakur
Teladan dan pergaulan
Esensi sesuatu
Faktor kebiasaan

KENAPA KITA DILARANG TAFAKKUR MENGENAI DZAT ALLAH SWT.?

Setidaknya ada dua alasan, yaitu:

1. Kita tidak akan sanggup menjangkau kadar keagunganNya.

Allah swt. tidak terikat ruang dan waktu. Abdullah bin Mas’ud berkata, “Bagi Tuhanmu tidak ada malam, tidak pula siang. Cahaya seluruh langit dan bumi berasal dari cahaya wajah-Nya, dan Dia-lah cahaya langit dan bumi. Pada hari kiamat, ketika Allah datang untuk memberikan keputusan bumi akan tenang oleh cahayaNya.

(Dia) Pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan bagi kamu dari jenis kamu sendiri pasangan-pasangan dan dari jenis binatang ternak pasangan- pasangan (pula), dijadikan-Nya kamu berkembang biak dengan jalan itu. tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha mendengar dan melihat. (Asy-syuuraa: 11)

Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala yang kelihatan; dan Dialah yang Maha Halus lagi Maha mengetahui. (Al-An’am: 103)

Ibnu Abbas berkata, “Dzat Allah terhalang oleh tirai sifat-sifat-Nya, dan sifat-sifat-Nya terhalang oleh tirai karya-karya-Nya. Bagaimana kamu bisa membayangkan keindahan Dzat yang ditutupi dengan sifat-sifat kesempurnaan dan diselimunti oleh sifat-sifat keagungan dan kebesaran.”

2. Kita akan terjerumus dalam kesesatan dan kebinasan.

Memberlakukan hukum Sang Khalik terhadap makhluk ini adalah sikap ghulluw (berlebihan). Itulah yang terjadi di kalangan kaum Rafidhah terhadap Ali r.a. Sebaliknya, memberlakukan hukum makhluk terhadap Sang Khalik ini sikap taqshir. Perbuatan ini dilakukan oleh aliran sesat musyabihhah yang mengatakan Allah memiliki wajah yang sama dengan makhluk, kaki yang sama dengan kaki makhluk, dan seterusnya. Semoga kita bisa terselamatkan dari kesesatan yang seperti ini. Amiin.

berbagai sumber

maza9071
Moderator
Moderator

Male
Number of posts: 479
Age: 34
Location: pahang
Registration date: 2008-05-01

Back to top Go down

Re: Tafakur dalam perspektif psikologi islam

Post by cupi_ketchum on Sat Jun 11, 2011 6:32 pm

Perkongsian yg sangat2 hebat dan bermanfaat.

..........................................................................................................................................................................................
Salamun Qaulam Mir Rabbin Rahim

http://www.paranorms.org/t767-mengajar-anak-cara-bersedekah-yg-efektif?highlight=mengajar+anak
http://www.paranorms.org/t617-erti-sin-ilahi-yang-sebenar?highlight=erti
http://www.paranorms.org/t618-erti-sebenar-sin-ilahi-double-post-utk-bacaan-bukan-ahli?highlight=erti

cupi_ketchum
Otai Poster
Otai Poster

Male
Number of posts: 2447
Age: 25
Location: Wilayah Persekutuan Labuan
Registration date: 2010-01-01

Back to top Go down

Re: Tafakur dalam perspektif psikologi islam

Post by Omera on Mon Jun 13, 2011 1:39 pm

Belum habis baca lagi... Biar pun begitu terima kasih pada tuan Maza9071 kerana input yang diberikan sangat berguna sekali...

Omera
Aktif
Aktif

Male
Number of posts: 1170
Age: 38
Location: Kuala Lumpur
Registration date: 2009-12-14

Back to top Go down

Re: Tafakur dalam perspektif psikologi islam

Post by maza9071 on Tue Jul 26, 2011 10:07 am

Meditasi merupakan ‘Tafakur’ dan berzikir berserta olahan pernafasan.. Nafas memiliki hubungan antara Insan dengan Tuhan sebagai satu alat yang padanya 'Izin Allah' diletakkan, membawa 'Sifatullah' dari hati ke pusat badan, fikiran dan roh. Nafas juga membawa unsur kehidupan (Prana) ke dalam fizikal (cakra) untuk fungsi Jasmaniah yang menimbulkan keseimbangan dan harmoni kepada tubuh badan manusia.... Firman Allah swt: “Demi masa, sesungguhnya manusia itu dalam kerugian,kecuali orang-orang yang beriman dan beramal soleh, dan mereka pula berpesan-pesan dengan kebenaran serta berpesan-pesan dengan kesabaran.”(Al-Asr:1-3)

Maha Besar Allah yang menjadikan diri-Nya sebagai satu-satunya yang sedang melihat dan menatap setiap gerak dan langkah, mendengar sehalus apapun bisikan, mendengar degup-degup setiap jantung, dan mengalirkan setiap darah. Dialah yang tidak pernah jauh dan lalai dalam mengurus setiap makhluk yang Ia ciptakan. Ia menjadi satu-satunya Pengasih yang tiada bandingan, kerana tidak pernah membeza-bezakan pemberian-Nya kepada sesiapapun. Dialah kekasih yang tidak pernah mungkir dan rakan yang amat setia lagi membantu di semua situasi. Dialah yang menjadi matlamat dan harta yang paling bernilai. Nabi saw bersabda: “Bersegeralah kamu kepada kebaikan,muda sebelum datang tua, sihat sebelum datang sakit, kaya sebelum miskin, lapang sebelum sibuk, hidup sebelum datang ajal.”
Ilmu adalah cahaya,ilmu adalah penyuluh. Nabi saw bersabda: “Menuntut ilmu wajib bagi tiap-tiap orang Islam”. Tanpa ilmu manusia dalam kegelapan,manusia mudah tersesat.Justeru itu ilmu mesti mendahului amal,amal tanpa ilmu bagaikan debu yang berterbangan.Orang yang tiada ilmu mudah ditipu oleh syaitan, mereka mudah tersesat dengan manusia yang pandai bercakap, yang mempunyai kelebihan dan sebagainya.Jika kita ingin menghidupkan hati, tiada jalan lain untuk menempuhnya melainkan dengan jalan ibadah.Apabila kita mahu beribadah, kita mestilah berilmu kerana ibadah tanpa ilmu akan hancur malah penuh kerosakan. Firman Allah: Adakah sama orang yang berilmu dengan orang tidak berilmu?(Az-Zumar:9)

Pendidikan itu mestilah bermula dari pembinaan rohaniah. Pembinaan insan yang hanya terhenti setakat memantapkan 'mind-setting' tidaklah tepat mengikut saranan Nabi Muhammad s.a.w. Perubahan itu perlu bermula dari dalam lubuk diri. Tafakur Ilahiyah memulakan perjalanan rohaniah insan kepada Tuhan dengan Falsafah & Methologi yang diwarisi dari kedalaman lautan khazanah para ulama.

Sesungguhnya dalam jasad anak Adam ada seketul daging, jika BAIK ia, maka BAIKlah seluruh jasad, jika FASAD (Rosak) ia, maka FASADlah seluruhnya. Ketahuilah ia adalah hati – (Hadith Riwayat Bukhari Muslim).

maza9071
Moderator
Moderator

Male
Number of posts: 479
Age: 34
Location: pahang
Registration date: 2008-05-01

Back to top Go down

Page 1 of 2 1, 2  Next

View previous topic View next topic Back to top

- Similar topics

Permissions in this forum:
You cannot reply to topics in this forum