Tazkirahkan diri saya sendiri.. Bukan utk orang lain.
Qalam Ilahi Wellness Center Malaysia :: Forum Umum | General Forum :: Artikel Ilmu | Knowledge articles
Page 4 of 4 • Share •
Page 4 of 4 •
1, 2, 3, 4
Tazkirahkan diri saya sendiri.. Bukan utk orang lain.
First topic message reminder :
silakan..
silakan..

ifahuzir- Aktif

-

Number of posts: 1858
Age: 32
Location: Kuala Lumpur - Sepang
Registration date: 2010-10-18
Re: Tazkirahkan diri saya sendiri.. Bukan utk orang lain.
Tak payah diskus pun takpe... Hanya nak menyampaikan saja...

Omera- Aktif

-

Number of posts: 1170
Age: 38
Location: Kuala Lumpur
Registration date: 2009-12-14
Re: Tazkirahkan diri saya sendiri.. Bukan utk orang lain.
Salaam, Suka saya mencoretkan seperkara dua seperti ini untuk dijadikan renungan dan bisikan rohani kepada sang diri yang sentiasa hidup dalam keadaan yang tergoda dan menggoda.. hehehe..
Coretan ini diambil dan di olah daripada hasil penulisan Imam Ghazali dalam salah sebuah kitab karangannya iaitu "Ihya' 'Ulumuddin"
Cerita Seorang Abid (ahli ibadah) Dengan Iblis (laknatullah)
Adapun Abid (ahli ibadah) adalah seorang yang amat tekun beribadah. Sebahagian besar hidupnya dipergunakannya untuk berbakti kepada Tuhan.
Pada suatu hari dilaporkan orang kepadanya, bahawa orang-orang sekampungnya menyembah sepohon kayu besar. Rakyat datang berduyun-duyun ke tempat itu untuk menyembah pohon tersebut.
Dengan marah yang meluap-luap, Abid itu bertekad akan pergi ke tempat tersebut dengan maksud memotong pohon kayu yang dijadikan “keramat” itu. Di tengah jalan, Abid bertemu dengan iblis yang menjelma dalam bentuk seorang laki-laki tua.
Iblis bertanya kepada Abid: “Hendak ke manakah engkau membawa kapak itu?” “Saya hendak pergi ke sana ” sahut Abid sambil menunjuk tempat yang akan ditujunya itu. “Di sana ada sepohon kayu besar yang disembah oleh orang-orang di kampung itu. Saya bermaksud menebang pohon kayu itu. “
“Untuk apakah engKau bersusah-payah menebang pohon itu, sampai-sampai engkau meninggalkan amalanmu yang tekun beribadat kepada Tuhan” sahut iblis.
Abid itu tidak menghiraukan nasihat iblis tersebut. la meneruskan perjalanannya dengan tekad yang bulat dan ikhlas untuk menebang pohon kayu besar yang menyesatkan manusia itu.
Kerana iblis berusaha juga mencegahnya, maka akhirnya terjadilah perkelahian Abid dengan iblis. Dalam pergumulan itu, Abid membanting iblis sehingga terpelanting jatuh ke tanah. Iblis kalah dalam perkelahian tersebut.
Kemudian iblis memujuk Abid itu dengan mengatakan, bahawa ia akan menunjukkan kepada Abid tersebut satu pekerjaan yang lebih bermenfaat dan menguntungkan. Iblis berkata:
“Tuhan tidak mewajibkan kepadamu untuk menebang kayu itu dan tidak pula diwajibkan kepadamu untuk mencegah orang lain menyembah pohon. Hal itu adalah kewajipan dan tugas para Nabi dan Rasul, sedang engkau tidak masuk golongan itu.”
Meskipun demikian, Abid tersebut tetap bertekad meneruskan perjalanannya untuk menebang pohon kayu itu. Kerana keduanya sama-sama keras, maka akhimya terjadilah lagi perkelahian antara Abid dengan iblis. Dalam perkelahian babak kedua ini, iblis tetap di pihak yang kalah.
Iblis kemudian memujuk Abid dengan rayuan-rayuan: “Sekarang, saya akan berikan kepadamu keuntungan yang terus-menerus. Engkau adalah seorang yang miskin, tidak berharta, sebab setiap hari waktumu senantiasa habis untuk beribadah, sehingga tidak ada kesempatan untuk mencari wang. Oleh sebab itu, saya berikan kepadamu dua dinar tiap-tiap hari. Satu dinar boleh engkau pergunakan untuk keperluan nafkahmu sendiri; satu dinar lagi boleh engkau sedekahkan untuk kaum fakir-miskin dan melarat. Tiap-tiap pagi, wang yang dua dinar itu akan saya letakkan di bawah bantalmu.”
Rupanya tipu-daya iblis itu dapat mempengaruhi Abid tersebut. Dikerumuninya niatnya yang tadinya ikhlas untuk menebang pohon kayu itu. Di hadapan matanya sudah terbayang dua dinar yang akan diterimanya tiap-tiap pagi. Dia beredar pulang kembali ke tempatnya untuk menjalankan ibadat seperti biasa.
Pada hari yang pertama, di bawah bantalnya ditemuinya dua dinar .Hari yang kedua demikian pula. la sudah merasa lega sebab dapat memperoleh wang tanpa mengeluarkan peluh.
Pada hari yang ketiga, diperiksanya kembali di bawah bantalnya. Tapi, ia merasa kecewa, sebab wang yang dua dinar itu tidak ditemuinya lagi, seperti yang sudah dijanjikan oleh iblis.
Dengan perasaan jangkal dan marah, Abid tersebut berangkat kembali dengan tujuan untuk menebang pohon kayu yang sudah dipasangkan menjadi niat pertama kali. Dia marah kepada iblis yang tidak memenuhi janjinya itu.
Di tengah jalan, ia bertemu kembali dengan iblis, yang juga menjelma sebagai seorang laki-laki tua seperti pada bentuk yang pertama kali. Terjadilah pertengkaran mulut antara keduanya, yang diakhiri dengan perkeiahian yang serupa. Berbeza dengan perkelahian pada babak pertama, dalam perkelahian ini Abid terpelanting dan mengalami kekalahan. Kerana Abid tersebut sudah berada di pihak yang kalah, akhimya iblis mengancam: “Kalau engkau akan meneruskan juga niatmu , menebang pohon kayu itu, maka akan saya habisi jiwamu pada saat ini juga. “
Dalam pembicaraan-pembicaraan selanjutnya, timbullah dialog antara keduanya. Abid bertanya.kepada iblis:
“Kenapakah ketika terjadi perkelahian yang pertama , dan kedua engkau dapat saya kalahkah; sedangkan pada perkelahian yang ketiga ini engkau berada di pihak yang menang?”
Iblis menjawab: “Tidak hairan apabila pada perkelahian kita yang pertama dan kedua itu, engkau berada di pihak yang menang. Sebab waktu itu niatmu untuk menebang pohon kayu itu didasarkan kepada keikhlasan, yaitu supaya orang banyak jangan tersesat menyembah pohon.
Adapun dalam perkelahian yang ketiga engkau kalah, niatmu untuk pergi menebang pohon itu kembali bukan didasarkan kepada keikhlasan, tapi ialah kerana kepentingan hawa-nafsumu. Sebab motifnya pada saat itu ialah kerana engkau tidak menemui wang dua dinar setiap hari yang saya janjikan itu. Kerana niat yang tidak suci itulah maka engkau tak dapat mengalahkan saya “
lho.. Gini lah kisah akhirnya.. Jadi, Awas!! sebagai diri yang sentiasa menyangka diri dalam keadaan apa sekalipun, Perbanyakkanlah bertaubat (menyesali akan setiap perkara yang telah dilakukan).. Sesungguhnya, Hanya Kepada Allah jualah tempat dikembalikan segala-galanya..
Coretan ini diambil dan di olah daripada hasil penulisan Imam Ghazali dalam salah sebuah kitab karangannya iaitu "Ihya' 'Ulumuddin"
Cerita Seorang Abid (ahli ibadah) Dengan Iblis (laknatullah)
Adapun Abid (ahli ibadah) adalah seorang yang amat tekun beribadah. Sebahagian besar hidupnya dipergunakannya untuk berbakti kepada Tuhan.
Pada suatu hari dilaporkan orang kepadanya, bahawa orang-orang sekampungnya menyembah sepohon kayu besar. Rakyat datang berduyun-duyun ke tempat itu untuk menyembah pohon tersebut.
Dengan marah yang meluap-luap, Abid itu bertekad akan pergi ke tempat tersebut dengan maksud memotong pohon kayu yang dijadikan “keramat” itu. Di tengah jalan, Abid bertemu dengan iblis yang menjelma dalam bentuk seorang laki-laki tua.
Iblis bertanya kepada Abid: “Hendak ke manakah engkau membawa kapak itu?” “Saya hendak pergi ke sana ” sahut Abid sambil menunjuk tempat yang akan ditujunya itu. “Di sana ada sepohon kayu besar yang disembah oleh orang-orang di kampung itu. Saya bermaksud menebang pohon kayu itu. “
“Untuk apakah engKau bersusah-payah menebang pohon itu, sampai-sampai engkau meninggalkan amalanmu yang tekun beribadat kepada Tuhan” sahut iblis.
Abid itu tidak menghiraukan nasihat iblis tersebut. la meneruskan perjalanannya dengan tekad yang bulat dan ikhlas untuk menebang pohon kayu besar yang menyesatkan manusia itu.
Kerana iblis berusaha juga mencegahnya, maka akhirnya terjadilah perkelahian Abid dengan iblis. Dalam pergumulan itu, Abid membanting iblis sehingga terpelanting jatuh ke tanah. Iblis kalah dalam perkelahian tersebut.
Kemudian iblis memujuk Abid itu dengan mengatakan, bahawa ia akan menunjukkan kepada Abid tersebut satu pekerjaan yang lebih bermenfaat dan menguntungkan. Iblis berkata:
“Tuhan tidak mewajibkan kepadamu untuk menebang kayu itu dan tidak pula diwajibkan kepadamu untuk mencegah orang lain menyembah pohon. Hal itu adalah kewajipan dan tugas para Nabi dan Rasul, sedang engkau tidak masuk golongan itu.”
Meskipun demikian, Abid tersebut tetap bertekad meneruskan perjalanannya untuk menebang pohon kayu itu. Kerana keduanya sama-sama keras, maka akhimya terjadilah lagi perkelahian antara Abid dengan iblis. Dalam perkelahian babak kedua ini, iblis tetap di pihak yang kalah.
Iblis kemudian memujuk Abid dengan rayuan-rayuan: “Sekarang, saya akan berikan kepadamu keuntungan yang terus-menerus. Engkau adalah seorang yang miskin, tidak berharta, sebab setiap hari waktumu senantiasa habis untuk beribadah, sehingga tidak ada kesempatan untuk mencari wang. Oleh sebab itu, saya berikan kepadamu dua dinar tiap-tiap hari. Satu dinar boleh engkau pergunakan untuk keperluan nafkahmu sendiri; satu dinar lagi boleh engkau sedekahkan untuk kaum fakir-miskin dan melarat. Tiap-tiap pagi, wang yang dua dinar itu akan saya letakkan di bawah bantalmu.”
Rupanya tipu-daya iblis itu dapat mempengaruhi Abid tersebut. Dikerumuninya niatnya yang tadinya ikhlas untuk menebang pohon kayu itu. Di hadapan matanya sudah terbayang dua dinar yang akan diterimanya tiap-tiap pagi. Dia beredar pulang kembali ke tempatnya untuk menjalankan ibadat seperti biasa.
Pada hari yang pertama, di bawah bantalnya ditemuinya dua dinar .Hari yang kedua demikian pula. la sudah merasa lega sebab dapat memperoleh wang tanpa mengeluarkan peluh.
Pada hari yang ketiga, diperiksanya kembali di bawah bantalnya. Tapi, ia merasa kecewa, sebab wang yang dua dinar itu tidak ditemuinya lagi, seperti yang sudah dijanjikan oleh iblis.
Dengan perasaan jangkal dan marah, Abid tersebut berangkat kembali dengan tujuan untuk menebang pohon kayu yang sudah dipasangkan menjadi niat pertama kali. Dia marah kepada iblis yang tidak memenuhi janjinya itu.
Di tengah jalan, ia bertemu kembali dengan iblis, yang juga menjelma sebagai seorang laki-laki tua seperti pada bentuk yang pertama kali. Terjadilah pertengkaran mulut antara keduanya, yang diakhiri dengan perkeiahian yang serupa. Berbeza dengan perkelahian pada babak pertama, dalam perkelahian ini Abid terpelanting dan mengalami kekalahan. Kerana Abid tersebut sudah berada di pihak yang kalah, akhimya iblis mengancam: “Kalau engkau akan meneruskan juga niatmu , menebang pohon kayu itu, maka akan saya habisi jiwamu pada saat ini juga. “
Dalam pembicaraan-pembicaraan selanjutnya, timbullah dialog antara keduanya. Abid bertanya.kepada iblis:
“Kenapakah ketika terjadi perkelahian yang pertama , dan kedua engkau dapat saya kalahkah; sedangkan pada perkelahian yang ketiga ini engkau berada di pihak yang menang?”
Iblis menjawab: “Tidak hairan apabila pada perkelahian kita yang pertama dan kedua itu, engkau berada di pihak yang menang. Sebab waktu itu niatmu untuk menebang pohon kayu itu didasarkan kepada keikhlasan, yaitu supaya orang banyak jangan tersesat menyembah pohon.
Adapun dalam perkelahian yang ketiga engkau kalah, niatmu untuk pergi menebang pohon itu kembali bukan didasarkan kepada keikhlasan, tapi ialah kerana kepentingan hawa-nafsumu. Sebab motifnya pada saat itu ialah kerana engkau tidak menemui wang dua dinar setiap hari yang saya janjikan itu. Kerana niat yang tidak suci itulah maka engkau tak dapat mengalahkan saya “
lho.. Gini lah kisah akhirnya.. Jadi, Awas!! sebagai diri yang sentiasa menyangka diri dalam keadaan apa sekalipun, Perbanyakkanlah bertaubat (menyesali akan setiap perkara yang telah dilakukan).. Sesungguhnya, Hanya Kepada Allah jualah tempat dikembalikan segala-galanya..

ifahuzir- Aktif

-

Number of posts: 1858
Age: 32
Location: Kuala Lumpur - Sepang
Registration date: 2010-10-18
Re: Tazkirahkan diri saya sendiri.. Bukan utk orang lain.
Hilang Harapan
Para nabi itu berkata: ‘Selama manakah, kerana rasa kasihan belas kita berikan nasihat kepada yang ini dan yang itu, nasihat yang baik?
Selama manakah kita memukul besi yang sudah sejuk dengan sia-sia?
Selama manakah kita meniup, menghembus nafas ke kisi-kisi di jendela?
Manusia digerakkan oleh Takdir Ilahi dan hukum yang ditetapkan, Sebagaimana gigi yang tajam disebabkan panas pada usus dan perut. Maka Nafsu/Jiwa Awal mengatasi Nafsu/Jiwa Yang Kedua.
Ikan mula menjadi busuk di kepalanya, bukan di ekornya. Tetapi dengarlah nasihat ini, jagalah kuda anda supaya betul seperti panah.
Bila Tuhan berfirman ‘Nyatakan’ kita mesti taat...
Wahai manusia ketahuilah rahsia selalu terselindung, golongan manakah kamu sertai??
Berkerja keraslah kamu, sehingga kamu boleh melihat mana golongan kamu. Bila kamu meletak barangan dagangan dalam kapal, Kalau kamu lakukan dengan yakin bahawa perjalanan itu akan mendatangkan keuntungan:
Kamu belum tahu yang mana dari dua peristiwa itu yang akan berlaku pada kamu
Samada kamu akan tenggelam ataupun datang selamat di tanah darat..
Kalau kamu berkata: Jikalau aku tahu yang mana satu nasibku, aku tidak akan meletakkan kaki atas mana-mana kapal ini. Adakah aku akan tenggelam dalam perjalanan atau aku selamat?
Nyatakan kepadaku dalam golongan manakah aku berada?
Aku tidak akan bermusafir, Jika hanya mengikut keberkebetulan nasib (semata)
Dengan hanya harapan sampai ke tanah darat, sebagaimana orang² lain..
Kalau demikian tidak akan ada perniagaan langsung yang berlaku di tangan kamu
Disebabkan kerana rahsia dua peristiwa itu selalu terselindung
Lampu kalbu, itu ahli perniagaan yang pengecut,
Ia bukan sahaja tidak mengetahui mendapat kerugian atau keuntungan dengan usaha-usahanya, Bahkan, ia mendapat kerugian, kerana ia terkecuali daripada keuntungan;
Lampu yang mengambil api itulah yang ada cahaya
Oleh kerana semua perkara bergantung kepada kemunasabahan (kemungkinan² yang boleh berlaku). Maka agama, mula-mulanya demikian, kerana dengan itu engkau mencapai kelepasan (daripada azab)
Di dunia ini, mengetuk pintu tidak mungkin berlaku kecuali menerusi harap dan Tuhan Maha Mengetahui tentang apa yang paling baik
Kemunasabahan ialah panduan hidup dalam agama sebagaimana juga dalam perkara-perkara biasa (dalam hidup).”Agama bergantung kepada harap dan takut."
Apa yang berlaku yang terakhir dalam perniagaan ialah harap dan kemunasabahan. Bila peniaga berusaha mereka seperti gelendung pemusing benang, berkeadaan kurus dan kecil.
Bila peniaga pergi ke kedai waktu paginya, Ia pergi dengan harapan kemunasabahan mendapat untung untuk mendapat roti.. Kalau tidak berharap mendapat roti mengapa peniaga pergi?
Ada pula kebimbangan tentang kerugian, kerana kamu lemah dan tidak kuat. Tetapi tidakkah perasaan mendapat kerugian yang habis-habis itu menjadi berkurang dalam masa kamu berusaha?
Kamu mengatakan: “Walaupun kebimbangan mendapat rugi itu ada di hadapanku, tetapi aku merasa lebih takut lagi kalau aku tidak berusaha". "Aku lebih lagi ada harapan melalui melakukan usahaku". "Perasaan takutku bertambah dengan aku malas tidak berusaha”
Mengapakah kamu, wahai si berhati pengecut, dalam segala perkara agama, adakah kamu menjadi lesu, kaku kerana takutkan kerugian?
Tidakkah kamu melihat bagaimana para peniaga dalam pasaran kita ini mendapat keuntungan yang sangat besar, dalam kalangan sahabat para rasul dan aulia? Alangkah besarnya perbendaharaan harta tersembunyi yang menanti mereka, bila mereka meninggalkannya.
Melihatkan mereka² (di luar sana) membuat keuntungan yang sedemikian besar; walhal ia masih di sini?
Api menjadi lembut kepada mereka seperti kain kapas,
Lautan membawa mereka dengan lembutnya seperti tukang pemikul barang,
Besi di tangan mereka menjadi lembut seperti lilin,
Angin pula bagi mereka seumpama hamba-hamba yang taat.
Pandanglah diri kamu sekarang.. Tonton semula filem² perjalanan diri kamu.. dan Persoalkan, Dalam golongan manakah aku ini..? Apakah perkara yang aku sudah dilakukan demiMu, Ya Allah?
Bisu.. Senyap.. Hening...
Para nabi itu berkata: ‘Selama manakah, kerana rasa kasihan belas kita berikan nasihat kepada yang ini dan yang itu, nasihat yang baik?
Selama manakah kita memukul besi yang sudah sejuk dengan sia-sia?
Selama manakah kita meniup, menghembus nafas ke kisi-kisi di jendela?
Manusia digerakkan oleh Takdir Ilahi dan hukum yang ditetapkan, Sebagaimana gigi yang tajam disebabkan panas pada usus dan perut. Maka Nafsu/Jiwa Awal mengatasi Nafsu/Jiwa Yang Kedua.
Ikan mula menjadi busuk di kepalanya, bukan di ekornya. Tetapi dengarlah nasihat ini, jagalah kuda anda supaya betul seperti panah.
Bila Tuhan berfirman ‘Nyatakan’ kita mesti taat...
Wahai manusia ketahuilah rahsia selalu terselindung, golongan manakah kamu sertai??
Berkerja keraslah kamu, sehingga kamu boleh melihat mana golongan kamu. Bila kamu meletak barangan dagangan dalam kapal, Kalau kamu lakukan dengan yakin bahawa perjalanan itu akan mendatangkan keuntungan:
Kamu belum tahu yang mana dari dua peristiwa itu yang akan berlaku pada kamu
Samada kamu akan tenggelam ataupun datang selamat di tanah darat..
Kalau kamu berkata: Jikalau aku tahu yang mana satu nasibku, aku tidak akan meletakkan kaki atas mana-mana kapal ini. Adakah aku akan tenggelam dalam perjalanan atau aku selamat?
Nyatakan kepadaku dalam golongan manakah aku berada?
Aku tidak akan bermusafir, Jika hanya mengikut keberkebetulan nasib (semata)
Dengan hanya harapan sampai ke tanah darat, sebagaimana orang² lain..
Kalau demikian tidak akan ada perniagaan langsung yang berlaku di tangan kamu
Disebabkan kerana rahsia dua peristiwa itu selalu terselindung
Lampu kalbu, itu ahli perniagaan yang pengecut,
Ia bukan sahaja tidak mengetahui mendapat kerugian atau keuntungan dengan usaha-usahanya, Bahkan, ia mendapat kerugian, kerana ia terkecuali daripada keuntungan;
Lampu yang mengambil api itulah yang ada cahaya
Oleh kerana semua perkara bergantung kepada kemunasabahan (kemungkinan² yang boleh berlaku). Maka agama, mula-mulanya demikian, kerana dengan itu engkau mencapai kelepasan (daripada azab)
Di dunia ini, mengetuk pintu tidak mungkin berlaku kecuali menerusi harap dan Tuhan Maha Mengetahui tentang apa yang paling baik
Kemunasabahan ialah panduan hidup dalam agama sebagaimana juga dalam perkara-perkara biasa (dalam hidup).”Agama bergantung kepada harap dan takut."
Apa yang berlaku yang terakhir dalam perniagaan ialah harap dan kemunasabahan. Bila peniaga berusaha mereka seperti gelendung pemusing benang, berkeadaan kurus dan kecil.
Bila peniaga pergi ke kedai waktu paginya, Ia pergi dengan harapan kemunasabahan mendapat untung untuk mendapat roti.. Kalau tidak berharap mendapat roti mengapa peniaga pergi?
Ada pula kebimbangan tentang kerugian, kerana kamu lemah dan tidak kuat. Tetapi tidakkah perasaan mendapat kerugian yang habis-habis itu menjadi berkurang dalam masa kamu berusaha?
Kamu mengatakan: “Walaupun kebimbangan mendapat rugi itu ada di hadapanku, tetapi aku merasa lebih takut lagi kalau aku tidak berusaha". "Aku lebih lagi ada harapan melalui melakukan usahaku". "Perasaan takutku bertambah dengan aku malas tidak berusaha”
Mengapakah kamu, wahai si berhati pengecut, dalam segala perkara agama, adakah kamu menjadi lesu, kaku kerana takutkan kerugian?
Tidakkah kamu melihat bagaimana para peniaga dalam pasaran kita ini mendapat keuntungan yang sangat besar, dalam kalangan sahabat para rasul dan aulia? Alangkah besarnya perbendaharaan harta tersembunyi yang menanti mereka, bila mereka meninggalkannya.
Melihatkan mereka² (di luar sana) membuat keuntungan yang sedemikian besar; walhal ia masih di sini?
Api menjadi lembut kepada mereka seperti kain kapas,
Lautan membawa mereka dengan lembutnya seperti tukang pemikul barang,
Besi di tangan mereka menjadi lembut seperti lilin,
Angin pula bagi mereka seumpama hamba-hamba yang taat.
Pandanglah diri kamu sekarang.. Tonton semula filem² perjalanan diri kamu.. dan Persoalkan, Dalam golongan manakah aku ini..? Apakah perkara yang aku sudah dilakukan demiMu, Ya Allah?
Bisu.. Senyap.. Hening...

ifahuzir- Aktif

-

Number of posts: 1858
Age: 32
Location: Kuala Lumpur - Sepang
Registration date: 2010-10-18
Re: Tazkirahkan diri saya sendiri.. Bukan utk orang lain.
Terkesima ..... betapa kerdilnya kita sebagai manusia
Page 4 of 4 •
1, 2, 3, 4
Similar topics» Maksud nama saya
» ebook membuat CMS sendiri
» Telefon bimbit bukan punca barah: Kajian
» Tazkirahkan diri saya sendiri.. Bukan utk orang lain.
» Perbaiki ummat Dari Dalam Diri Kita Sendiri
» ebook membuat CMS sendiri
» Telefon bimbit bukan punca barah: Kajian
» Tazkirahkan diri saya sendiri.. Bukan utk orang lain.
» Perbaiki ummat Dari Dalam Diri Kita Sendiri
Qalam Ilahi Wellness Center Malaysia :: Forum Umum | General Forum :: Artikel Ilmu | Knowledge articles
Page 4 of 4
Permissions in this forum:
You cannot reply to topics in this forum